|
Kebanggaan Seorang Penjahat Perang
Manusia dalam
jalan menuju kesempurnaannya tidak akan mau dibatasi oleh batasan apapun
dan dia akan selalu mencari jalan untuk mencapai kemajuan yang lebih
tinggi lagi. Contoh paling jelas tentang hal ini bisa kita lihat dalam
kehidupan para Nabi dan awliya Allah. Namun, sebaliknya, ada juga
manusia yang melangkah menuju kehancurannya tanpa mau berhenti, hingga
sampai ke taraf yang disebut dalam Al Quran sebagai ‘lebih rendah
daripada binatang.” Langkah
seperti inilah yang diambil oleh para penjahat perang dalam hidupnya.
Mereka melakukan kejahatan demi kejahatan tanpa henti. Langkah mereka
baru berhenti ketika mereka mati. Hal inilah yang terjadi pada Saddam
Hussein, diktator Irak yang akhirnya mati di tiang gantungan.
Bila
kita mengamati eksepsi Saddam Hussein dalam pengadilannya di Bagdad,
kita bisa menyimpulkan bahwa penjahat perang ini memang telah keluar
dari status kemanusiaannya. Di pengadilan, Saddam mengatakan, “Dalam
hubungan dengan Iran, jika semua pasukan militer atau pejabat resmi
mengakui bahwa Saddam-lah yang memerintah mereka untuk menggunakan
senjata kimia, maka saya dengan bangga akan menerima tanggung jawab
itu.” Kalimat ini hanya bisa dimaknai satu hal: Saddam sama sekali tidak
menyesali kejahatan perang yang dilakukannya, namun bahkan juga merasa
bangga dengan apa yang telah dilakukannya.
Pada
tahun 1980, Saddam Hussein dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan
pemerintah negara-negara Barat, mengeluarkan perintah penyerangan
terhadap wilayah Iran. Namun, pasukan Saddam berhadapan dengan kegigihan
perlawanan para pejuang Iran yang tak gentar sedikitpun dalam
mempertahankan tanah air mereka. Oleh karena itulah, pada tahun-tahun
pertama perang, Sadam pun mulai menggunakan senjarta kimia dengan
harapan bisa menghentikan perlawanan bangsa Iran. Seiring dengan semakin
gigihnya perlawanan pasukan Iran, semakin tinggi pula intensitas
penggunaan senjata kimia oleh pasukan Saddam. Korban dari penggunaan
senjata kimia ini tidak hanya para tentara Iran, namun juga rakyat
sipul, termasuk perempuan dan anak-anak.
Selama
perang delapan tahun antara Irak-Iran, banyak sekali desa yang
dibombardir senjata kimia oleh Saddam, namun serangan terbesar adalah
terhadap kota Sardasht di Barat Iran. Serangan bom kimia itu dilakukan
pada tanggal 28 Juni 1987 dan merupakan sebuah pembunuhan massal yang
paling mengerikan sepanjang perang Iran-Irak. Sebanyak 350 orang,
termasuk anak-anak dan perempuan tewas seketika, dan 7 ribu orang
lainnya terluka dan sebagiannya hingga hari ini masih hidup dengan
menanggung penyakit akibat senjata kimia itu.
Kekejaman Saddam tidak saja ditunjukkan kepada bangsa Iran, namun juga
kepada rakyatnya sendiri. Setahun setelah serangan bom kimia di Sardast
Iran, yaitu bulan Maret 1988, Saddam memerintahkan penggunaan senjata
kimia di kota Halabche, Irak utara, yang mayoritasnya didiami oleh warga
etnis Kurdi. Dalam serangan senjata kimia ke Halabche, 5000 warga sipil
menjadi korban kekejaman Saddam.
Hari
ini, terdapat sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan
menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Setiap
tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS untuk
merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula banyak di
antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Selain menangung penyakit,
sebagian korban senjata kimia ini juga harus menanggung kepedihan
karena anak-anak keturunan mereka menderita kelainan fisik atau mental
akibat pengaruh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Senjata kimia memang
juga berdampak pada kerusakan DNA yang diwariskan secara genetik kepada
keturunan para korban.
Sepanjang perang delapan tahun Iran-Irak, pasukan Irak telah
membombardir Iran dengan senjata kimia sebanyak 350 kali. Berdasarkan
laporan investigator PBB, Juan Mack, sepanjang perang Iran-Irak, pasukan
Saddam telah menggunakan 1800 ton gas Mustard, 600 ton gas Sarin, dan
berbagai jenis senjata kimia lainnya. Bahan kimia yang mematikan ini,
terutama gas Mustard akan mengkontaminasi semua permukaan, termasuk
tanah. Itulah sebabnya, semburan gas ini menjatuhkan korban yang sangat
banyak. Gas ini akan merusak sistem pernafasan, mata, dan kulit. Setiap
bagian tubuh yang terkontaminasi gas Mustard ini secara bertahap akan
terbakar dan sistem kekebalan tubuh akan rusak. Gas ini juga akan
menyebabkan kerusakan DNA dan kemungkinan menyebabkan kanker.
Marilah
kita menengok kehidupan Parvin Vahedi, seorang korban senjata kimia,
yang masih hidup hingga hari ini. Sore itu, pada tanggal 28 Juni tahun
1987, Parvin yang saat itu masih berusia 19 tahun mendengar suara
gemuruh pesawat. Lalu, tiba-tiba terdengar suara jeritan orang-orang dan
mereka berusaha menutupi hidung dan mulut dengan kain. Menurut Parvin,
saat itu di udara tercium bau bawang putih dan udara terasa manis
seperti gula. Tak lama kemudian, Parvin mulai merasakan efek gas Mustard
itu, kulitnya terasa terbakar, begitu pula matanya. Parvin dan
keluarganya bergegas naik mobil ke rumah sakit, namun rumah sakit kota
Sardast sedemikian penuhnya sehingga mereka tidak bisa mendapatkan
pertolongan. Mereka pun kembali mengendarai mobil ke kota lain, yaitu
kota Mahabad. Di sana, Parvin pun pingsan dan tiga pekan kemudian dia
baru tersadar dan saat itu dia sudah berada di sebuah rumah sakit di
Brussel.
Parvin Vahedi kehilangan sebelas anggota keluarganya akibat serangan bom
kimia ini, termasuk ayah, ibu, dua saudara laki-laki, dan beberapa
keponakan yang masih kecil. Kematian mereka tidak terjadi seketika.
Parvin harus menyaksikan orang-orang yang dicintainya itu menderita
kesakitan yang mengerikan, sampai akhirnya tubuh mereka tidak bisa
menahan sakit dan menghembuskan nafas yang terakhir. Parvin sendiri
harus kehilangan satu paru-parunya. Secara berkala, kulitnya melepuh dan
hampir semua organ-organ penting di tubuhnya telah kehilangan fungsi.
Kini, hampir dua puluh tahun sejak kejadian mengerikan
itu, Parvin masih hidup dengan menangung rasa sakit luar biasa. Dia
menjadi saksi sejarah tentang kekejaman seorang penjahat perang bernama
Saddam Husein. Seorang penjahat perang yang menyatakan bahwa dia bangga
telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang puluhan ribu warga sipil
dengan menggunakan senjata kimia.
|