|
Zionisme, Ideologi Rasialis
Zionisme dan organisasi
semisalnya yang menjadi cikal bakal kelahiran rezim ilegal Israel di
tanah Palestina, adalah sebuah gerakan ideologi rasialis, sementara
agama hanya dijadikan sebagai alat untuk mendukung merealisasikan
cita-citanya. Karena itu wajar jika kaum Zionis tidak pernah menghargai
bangsa Arab khususnya Palestina, termasuk mereka yang beragama Yahudi.
Sejak berdiri di negeri Palestina, Rezim Zionis telah melakukan berbagai
macam kezaliman terhadap bangsa Palestina.
Zionisme terbentuk dari
berbagai pemikiran, ideologi dasar, organisasi politik dan sebuah proyek
sosial, dengan mencanangkan dua hal yang menjadi cita-citanya. Yaitu,
kembali ke negeri yang dijanjikan dan membangun umat Yahudi. Kaum Zionis
sejak sekitar 100 tahun lalu, ketika ide pemikiran Zionisme mulai
digulirkan berusaha keras untuk mewujudkannya. Hal terbesar yang telah
mereka lakukan adalah mendirikan sebuah rezim pemerintahan di negeri
Palestina dengan nama Israel tahun 1948.
Lahirnya rezim ini
diawali dengan perang yang menyengsarakan rakyat Palestina. Ratusan ribu
warga Palestina tewas, terluka dan terusir dari negeri mereka. Semua itu
terjadi didepan mata negara-negara adidaya dan sesuai dengan rencana dan
skenario yang telah bersama-sama mereka susun. Berdasarkan skenario
tersebut, Zionis harus menjadi yang terkuat di kawasan. Untuk itu,
segala sarana baik alat-alat militer maupun pengaruh politik gerional
dan global harus diperbantukan untuk Israel. Di saat itulah, rakyat
Palestina yang tanpa penolong dipaksa mengungsi keluar dari tanah
leluhur mereka.
Kisah keterusiran warga
Palestina dari negeri mereka juga berusaha disamarkan oleh kaum Zionis.
Dengan mendistorsi fakta sejarah, mereka mengatakan bahwa orang-orang
Palestina tersebut meninggalkan negeri ini karena terbujuk oleh ajakan
para penguasa Arab dan non Arab yang menawarkan perlindungan di luar
Palestina. Dengan kata lain, orang-orang Zionis berusaha mengesankan
bahwa negeri Palestina adalah negeri tanpa penghuni, sehingga langkah
mendirikan negara bernama Israel di negeri ini dapat dibenarkan.
Para pemimpin Rezim
Zionis Israel dan para pemikirnya tidak pernah mengakui adanya bangsa
bernama Palestina yang hidup di sana. Sebab jika mengakuinya, rezim ini
harus memberikan hak-hak kepada orang-orang Palestina sesuai dengan
ketentuan internasional. Jika keberadaan rakyat Palestina diakui,
berarti Israel harus pula mengakui gerakan perlawanan yang dilakukan
para pejuang bangsa ini dalam rangka merebut kembali hak-hak mereka. Hal
ini tentu saja bertentangan dengan prinsip dasar ideologi zionisme.
Pengkaburan atau lebih
tepatnya distorsi fakta sejarah itu ditentang luas oleh para peneliti
independen, bahkan dari dalam Israel sendiri. Eylan Babey, dosen di
universitas Haifa Israel mengatakan, dukomen dan data sejarah mengenai
perang tahun 1948 membuktikan bahwa orang-orang Zionis telah melakukan
pembunuhan massal terhadap rakyat Palestina untuk memaksa mereka keluar
dari negeri ini. Kisah Palestina adalah kisah derita dan tragedi.
Dalam melakukan
kejahatan terhadap rakyat Palestina sejak tahun 1948 hingga kini, Rezim
Zionis dibantu oleh lembaga-lembaga khususnya antara lain Organisasi
Zionisme Herzl. Organisasi ini dididirikan tahun 1897 oleh Theodor Herzl
jurnalis Yahudi keturunan Hongaria yang tinggal di Swiss. Organisasi
Zionisme Herzl dikenal sebagai sebuah organisasi rasialis dan ekstrem.
Nama Zionisme diambil dari nama gunung Zion tempat berdirinya kota
Beitul Maqdis atau Jerussalem.
Zionisme bentukan Herzl
mencita-citakan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Palestina dan
mendirikan tempat peribadatan Kuil Sulaiman di lokasi tempat Masjidul
Aqsha berdiri. Dengan cita-cita tersebut, masyarakat dunia menyematkan
label rasisme untuk gerakan Zionisme ini. Apalagi untuk mencapai tujuan
dan cita-citanya, Zionisme merasa berhak menggunakan segala cara
termasuk cara-cara yang paling tidak manusiawi.
Untuk dapat mencapai
cita-cita besar seperti itu, orang-orang Zionis merasa perlu merangkul
kekuatan-kekuatan adidaya untuk memperoleh dukungan dan bantuan. Upaya
itu dituangkan dalam konferensi Baltimur yang digelar tahun 1942 di
Amerika Serikat. AS dipilih sebagai tuan rumah konferensi karena di
negara ini, orang-orang Yahudi Zionis memiliki pengaruh dan lobi yang
cukup kuat. Lebih dari itu, pada dekade 1940-an, AS telah bersiap-siap
untuk memimpin Blok Barat yang kapitalis.
Sejak terbentuk,
Organisasi Zionisme Herzl telah menyelenggarakan lima tahap konferensi
yang membahas berbagai hal berkenaan dengan gerakan ini. Tahap pertama
antara tahun 1897 hingga 1903, tema pembahasan yang diangkat berkenaan
dengan masalah keagamaan, kesulitan yang ada dalam mengorganisasi para
pemeluk agama Yahudi di seluruh dunia, kajian tentang kondisi Palestina
dan pengkaderan.
Tahap kedua antara
tahun 1904 hingga tahun 1916 dibahas tentang pragram praktis di
Palestina, pengkaderan orang-orang Yahudi dan penyelesaian friksi dan
silang pendapat yang ada antara para pemuka dan tokoh politik Zionis.
Pada tahap ketiga antara tahun 1917 hingga 1947 pembahasan difokuskan
pada masalah perombakan struktur organisasi dan upaya untuk memperluas
jaringan sampai ke tingkat internasional.
Tahap keempat antara
tahun 1948 sampai 1978 diwarnai dengan masalah perang dengan rakyat
Palestina, pembagian negeri ini, pengumuman berdirinya Israel,
pengukuhan, pengembangan dan modernisasi program untuk menduduki kota
suci Beitul Maqdis atau Jerussalem, serta Judaisasi kota ini. Pada
rentang masa tersebut, Rezim Zionis mendatangkan imigran Yahudi dari
berbagai negara ke Palestina secara besar-besaran. Antara tahun 1979
hingga saat ini, Zionisme mengagendakan program untuk mengeluarkan
Israel dari keterkucilan dan membujuk negara-negara Aran untuk mengakui
eksistensinya. Dalam rangka ini Israel berhasil merangkul Mesir lewat
Perjanjian Camp David, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) lewat
Perjanjian Oslo dan Jordania melalui perjanjian Wadi Arbah. Tidak hanya
itu, sejumlah negara Arab juga menjalin kontak dan hubungan terselubung
dengan Rezim ini.
Lembaga penting kedua
yang mendukung program Zionisme adalah Organisasi Militer Haganah yang
didirikan tahun 1921 di kota Beitul Maqdis. Organisasi inilah yang
menjadi tulang punggung utama gerakan zionisme setelah membentuk
angkatan bersenjata untuk mendukung pembentukan negara Israel. Dengan
menjalankan program-program zionisme, barisan tentara ini berkembang dan
membesar. Orang-orang Yahudi yang pernah terjun di perang dunia kedua
membela Inggris ikut bergabung dalam barisan tentara Haganah. Mereka
inilah yang lantas ikut memadamkan api perlawanan rakyat Palestina
terhadap penjajahan antara tahun 1936-1939.
Di penghujung dekade
1930-an, Haganah berhasil membentuk regu-regu perang di bawah komando
salah seorang perwira militer Inggris. Kelompok ini menjalankan misi
meneror dan menumpas gerakan perlawanan rakyat Palestina. Organisasi
Haganah juga berhasil membentuk lembaga kepolisian Yahudi dengan jumlah
personil yang bertugas sebanyak 22 ribu orang.
Lembaga berikutnya
adalah Organisasi Samuel yang dibentuk tahun 1922, oleh Herbert Samuel
yang dikenal sangat ekstrem. Organisasi Samuel didirikan untuk membentuk
pemerintahan di negeri Palestina bersama dengan lembaga-lembaga dan
organisasi-organisasi Zionis lainnya. Berbekal dukungan dan bantuan
Inggris, organisasi-organsasi Zionisme dengan getol menyeru kepada
orang-orang yahudi di seluruh dunia untuk berimigrasi ke Israel.
Sebagai pemikir utama
organisasi, Samuel menyusun struktur pemerintahan di Palestina sesuai
dengan ide imperialisme. Semua posisi penting diserahkan kepada
orang-orang Yahudi, sementara untuk merekrut pegawai diupayakan jumlah
yahudi jauh lebih besar dari warga Palestina. Padahal sampai tahun 1930,
prosentase warga Arab masih 93 persen di Palestina. Samuel juga
mengumumkan bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi setelah Arab dan Inggris.
Skenario lain yang
dijalankan oleh Organisasi Samuel adalah memudahkan imigrasi Yahudi dari
negara-negara lain ke Palestina. Dengan meninggikan pajak atas tanah
perkebunan, warga Palestina yang bekerja sebagai petani ditekan dan
dipaksa untuk menjual tanah mereka. Di masa itu, kaum Zionis mulai
mengaku sebagai pemilik laut mati serta menguasai sungai Jordan, Yarmuk,
Auja dan danau Tabariya. Organisasi Samuel dalam sebuah aksinya
memberikan tanah-tanah milik warga Palestina kepada para imigran Yahudi.
Selain itu organisasi ini juga menjual bank Ottoman, satu-satunya bank
yang seratus persen sahamnya dimiliki oleh warga Palestina.
Dalam banyak kesempatan,
Samuel dengan angkuh mengaku diri sebagai juru bicara umat Yahudi
sedunia. Organisasi Yahudi Samuel saat ini bekerja dengan aktif melalui
tiga komisi yang berkantor di Beitul Maqdis, London dan New York,
tujuannya adalah untuk membantu Israel mewujudkan cita-cita zionisme.
Organisasi Irgun adalah
nama kelompok milisi bersenjata Zionis yang dianggotai oleh orang-orang
Zionis ekstrem. Kelompok ini ikut membantu koloni Inggris menumpas
gerakan perlawanan rakyat Palestina. Milisi Irgun terlibat dalam banyak
kasus pembantaian warga Palestina termasuk dalam tragedi pembantaian
massal di Deir Yassin tahun 1948.
Organisasi pendukung
Zionisme berikutnya adalah organisasi Hashumir yang memanggul senjata
dan melakukan berbagai aksi terorisme. Kelahiran keompok ini tahun 1907
dibidani oleh para tokoh Zionis termasuk David Ben Gurion. Ada pula
kelompok lainnya bernama Organisasi Hairut yang merupakan pecahan dari
Irgun. Menakheem Begin yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri
Rezim Zionis Israel ikut meramaikan aktivitas kelompok bersenjata Zionis
ini.
Lembaga kepolisian
pemukiman Zionis Hahayel adalah satu lagi lembaga yang membantu
tereliasasinya cita-cita Zionisme. Lembaga kepolisian ini dibentuk pada
masa koloni Inggris atas negeri Palestina antara perang Dunia Pertama
dan Kedua. Satuan polisi yang dianggotai sekitar 20 ribu personil ini,
sebenarnya dibentuk agar bisa dimanfaatkan oleh Inggris dalam perang
dunia kedua. Inggris mengizinkan Hahayel untuk merekrut 30 ribu tenaga
muda untuk ikut bergabung dalam satuan ini.
|