Perspektif    

   April 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prediksi Hasil Pilpres Perancis 2007 

Tanggal 22 April 2007, warga Perancis akan mendatangi tempat pemilihan suara dalam rangka memilih calon presiden baru yang akan menggantikan posisi Jacques Chirac. Hasil pilpres Perancis kali ini, sangat sulit diprediksi bahkan sejumlah pihak menilainya mustahil untuk memperkirakan siapa yang akan menjadi pemenang dalam perolehan suara. Di antara para kandidat, Nicolas Sarkozy dari kelompok sayap kanan dan Segolene Royal, dari kelompok sayap kiri, yang tampak ketat bersaing dibandingkan kandidat lainnya. Pada peringkat berikutnya, terjadi persaingan ketat antara Francois Bayrou dari kelompok sayap kanan moderat dan Jean Marie Le Pen, dari kelompok esktrim.

Sepertiga dari 44 juta warga Perancis dinyatakan memiliki hak untuk memilih dan hingga kini mereka menyatakan kebingungan untuk menjatuhkan pilihan mereka. Warga Perancis hingga kini masih dibayangi peristiwa yang terjadi pada pilpres tahun 2002 lalu. Saat itu, Chirac dan Josephine berada di tingkat teratas dalam perolehan suara meninggalkan para kandidat lainnya. Namun secara mendadak, perolehan suara Jean Marie Le Pen meningkat tajam hingga berhasil menggeser posisi Josephine di peringkat kedua. Akhirnya, Chirac dan Le Pen memasuki pemungutan suara kedua.

Jika Chirac berhasil mempertahankan jabatannya sebagai Presiden Perancis untuk kelima kalinya setelah proses pemungutan suara tahap kedua, hal itu dikarenakan kekhawatiran warga Perancis terhadap berkuasanya Le Pen yang dikenal sebagai tokoh yang anti-orang asing. Pada pemilu kali ini, warga Perancis kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit seperti yang mereka saksikan pada pemilu sebelumnya. Hingga kini, tak satu pun dari dua kandidat dari sayap kanan dan kiri yang mampu menggalang suara mayoritas warga.

Dua partai yang berkuasa di Perancis yaitu Partai Persatuan untuk Rakyat (UMP) dan Partai Sosialis, terbukti gagal dalam memulihkan kondisi ekonomi dan sosial Perancis selama 12 tahun terakhir. Baik Chirac yang tinggal di Istana Elize sejak tahun 1995, maupun Partai Sosialis yang menguasai parlemen antara tahun 1997 hingga 2002, gagal menyelesaikan kendala sosial dan ekonomi Perancis. Salah satu faktor kesuksesan Jean-Marie Le Pen, dalam pilpres tahun 2002 adalah ketidakpercayaan warga terhadap kinerja dua partai berkuasa Perancis.

Dalam pilpres kali ini, Partai UMP dan Sosialis berupaya menampilkan performan baru untuk menggalang dukungan rakyat dengan cara menafikan kinerja rekan-rekan mereka pada masa lalu. Misalnya, Sarkozy dan Royal saling mengemukakan program dan strategi baru dalam menyelesaikan masalah ekonomi, sosial, dan keamanan Perancis pada masa mendatang. Sarkozy lebih menekankan pada pemulihan keamanan khususnya terkait masalah imigran. Hal itu dimaksudkan mengaburkan keberhasilan kubu lawan yang dinilai cukup berhasil dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Partai sayap kanan Perancis memang tengah mengarahkan kampanye mereka untuk menggalang dukungan sebanyak-banyaknya dari warga yang pro front nasionalis esktrim. Dalam hal ini, slogan yang dilontarkan Sarkozy dan Le Pen hampir sama dan diperkirakan kedua kandidat tersebut akan membentuk koalisi.

Di pihak Partai Sosialis, Segolene Royal juga memiliki trik kampanye yang cukup unik. Ia menyatakan tidak setuju dengan kinerja partainya pada masa lalu. Royal mulai menggulirkan kampanyenya dengan menggunakan slogan perubahan manifestasi partai sosialis. Slogan tersebut merupakan pukulan bagi partai Sosialis, mengingat Royal sendiri merupakan anggota senior kubu Sosialis. Namun para anggota senior partai sosialis lainnya seperti Lionel Josephine, Lauren Fabius, dan Dominic Straush Kan, menyadari bahwa mereka tidak akan dapat menandingi kekuatan dan pengaruh Royal. Sebab itu, Partai Sosialis menunjuk Royal sebagai kandidat utamanya. Kelebihan lainnya yang dimiliki Royal adalah, ia merupakan wanita pertama dalam sejarah Perancis yang berhasil memasuki putaran final pilpres.

Hingga dua bulan lalu, analisa yang berkembang di Perancis memprediksikan persaingan ketat antara Sarkozy dan Royal. Kedua kandidat tersebut dalam berbagai jajak pendapat selalu berada di tingkat teratas meninggalkan 10 rival mereka. Namun perlu ditekankan pula bahwa peningkatan gradual popularitas Francois Bayrou, Ketua Partai Persatuan untuk Demokrasi, yang terus bergerak mendekati Sarkozy dan Royal, membuyarkan seluruh prediksi dan analisa yang ada. Bahkan sejumlah pengamat menilai hasil pilpres Perancis tahun ini sangat sulit dan nyaris mustahil untuk diprediksi. Alasannya, peningkatan popularitas Bayron selalu dibarengi dengan menurunnya dukungan terhadap Royal.

Bayrou berusaha tampil sebagai sosok politisi sosial demokrat dengan cara membuka front dengan Sarkozy dan menghindari konfrontasi dengan kelompok sayap kiri. Sejauh ini, strategi kampanye Bayrou cukup efektif dalam meningkatkan popularitasnya. Meski demikian, Royal dan Sarkozy tetap berada dalam gelanggang utama pemilu. Tetapi hasil jajak pendapat tidak dapat dijadikan pedoman soal siapa yang akan menjadi Presiden Perancis mendatang, mengingat opini umum tampak bimbang untuk menentukan pilihan mereka.

Kubu Sosialis sejak awal sudah merasa khawatir jika kandidat mereka yaitu Royal akan tersingkir keluar arena pada putaran pertama pemungutan suara, seperti yang mereka alami pada pilpres 2002. Kekhwatiran itulah yang membuat para anggota Sosialis mengimbau Royal dan Bayrou untuk berkoalisi mengalahkan Sarkozy. Sampai detik ini, Royal menolak usulan tersebut. Namun ide koalisi antara Kubu Sosialis dan Partai Persatuan untuk Demokrasi itu, kemungkinan besar akan terjadi pada pemilu parlemen yang akan berlangsung bulan Juni mendatang. Seandainya Sarkozy menang dalam pilpres, namun ia tidak dapat berharap banyak partainya juga akan meraih kursi terbanyak dalam parlemen.

Terdapat dua perkiraan dalam pilpres Perancis kali ini yaitu bahwa jika Sarkozy dan Royal yang masuk ke tahap kedua pemungutan suara, maka Sarkozy memiliki peluang lebih banyak untuk menggantikan posisi Chirac. Namun jika yang masuk ke putaran kedua adalah Sarkozy dan Bayrou, maka peluang perolehan suara terbanyak akan berada di tangan Bayrou, mengingat Partai Sosialis akan mendukungnya.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]