|
Condoleezza Rice, Menlu AS, dan Robert
Gates, Menhan AS, pekan lalu dalam lawatan ebrsamanya ke Timur Tengah
dan Teluk Persia bertatap muka dan berdialog dengan para pejabat
negara-negara kawasan tersbeut. Berbagai berita dan laporan bertebaran
berkenaan dengan tujuan-tujuan kunjungan bersama dan langka oleh dua
menteri kunci pemerintahan George Bush ini. Media-media massa AS menulis
bahwa Rice dan Gates, dalam kunjungan ke negara-negara Arab tetangga
Irak di Teluk Persia meminta kepada para pejabat negara ini agar
mengambil sikap yang konstruktif terhadap pemerintahan Nuri Al-Maliki.
Sebelum dimulainya lawatan Timur Tengah
Menlu dan Menhan AS, tersebar pula berita tentang kontrak-kontrak
penjualan persenjataan dalam jumlah besar oleh AS kepada rezim zionis
dan kepada negara-negara anggota Kerjasama Teluk Persia, juga kepada
mesir. Berkenaan dengan perjanjian peresenjataan baru antara AS dan
negara-negara Arab serta rezim zionis akan kami bicarakan dalam
kelanjutan acara ini. Adapun saat ini kami cukupkan dengan menyampaikan
angka-angka berikut, yaitu bahwa berdasarkan kontrak-kontrak tersebut,
dalam masa 10 tahun As akan menjual senjatanya kepada rezim zionis
senilai 30 miliar USD, kepada Arab Saudi dan negara-negara anggota
Kerjasama Teluk Persia senilai 20 miliar USD, dan kepada Mesir senilai
13 miliar USD.
Adapun tugas terpenting Rice dan Gates dalam
kunjungannya ke Timur Tengah ialah membentuk front baru anti RII.
Berita-berita berkenaan dengan Iran dalam tujuan kunjungan Menlu dan
Menhan AS ke kawasan ini, pertama kali di rilis oleh Fox News. Sebelum
kunjungan dua pejabat tinggi AS tersebut ke kawasan, Fox News
mengumumkan bahwa dalam pertemuan-pertemuan dengan para pejabat Arab,
Rice dan Gates akan menjelaskan rancangan baru AS untuk mengantisipasi
pengaruh Iran di Teluk Persia. Kantor berita Perancis juga melaporkan
bahwa Menhan AS mengakhiri tugasnya di Timur Tengah dengan mengajukan
permintaan kepada negara-negara Arab agar bekerjasama dengan AS untuk
semakin menekan RII di bidang ekonomi dan politik.
Berdasarkan stetmen resmi militer AS, lebih
dari satu dekade, negara ini telah mengirimkan senjata kepada rezim
zionis dan sejumlah negara Arab Teluk Persia dan Timur Tengah dengan
nilai lebih dari 63 miliar USD. Seorang pejabat tinggi Dephan AS, yang
ikut dalam rombongan kunjungan Robert Gates ini, mengatakan,
persenjataan yang akan dijual ke Arab Saudi, akan memperkuat pasukan
Angkatan Darat, Laut dan Udara negara ini, dalam menghadapi apa yang
disebut oleh AS sebagai "Ancaman Iran". Sebelum berangkat ke Mesir,
Menhan AS juga mengatakan kepada para wartawan, "Penjualan
senjata-senjata moderen kepada Arab Saudi, Mesir dan Israel, dilakukan
dalam rangka memperkuat negara-negara ini untuk menghadapi kemungkinan
serangan Iran."
Menhan AS
mengulang-ulang klaimnya tentang ancaman RII bagi kawasan dan mengatakan
bahwa AS tidak akan meninggalkan teman-temannya di kawasan ini
menghadapi Iran sendirian. Sementara Menlu dan Menhan AS menjustifikasi
penjualan puluhan miliar USD senjata-senjatanya kepada negara-negara
kawasan dengan alasan ancaman Iran, padahal tak satu pun negara Arab
Timur Tengah dan Teluk Persia yang merasakan adanya ancaman sekecil apa
pun dari Iran; bahkan mereka berkali-kali menyatakan yang demikian itu.
Demikian pula Iran juga tidak merasakan kekhawatiran khusus dari
pembelian persenjataan oleh negara-negara Arab Timur Tengahd dan Teluk
Persia.
Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII,
pekan lalu, di depan para wakil berbagai media massa Aljazair, berkenaan
denan masalah ini berkata, "Bukan yang pertama kalinya AS menjual
senjatanya kepada negara-negara kawasan ini, bahkan selama 20 tahun
terakhir, AS dan para produsen senjata lain, telah menjual persenjataan
kepada negara-negara Arab dengan nilai mencapai sekitar 400 miliar USD.
Presiden Iran menilai penjualan senjata AS kepada negara-negara Arab
sebagai bagian dari usaha gedung putih untuk menciptakan perpecahan
diantara negara-negara regional. Beliau berkata, RII tidak akanmerasa
cemas dengan pembelian senjata oleh negara-negara Arab. Karena Iran
memiliki hubungan yang kuat dan mendalam dengan negara-negara ini. Akan
tetapi Ahmadinejad mengingatkan bahwa pembelian senjata, oleh negara
manapun, tanpa perhitungan dan di luar keperluan yang sesungguhnya,
hanya akan membuang-buang kekayaan nasional, padahal biaya sebesar itu
dapat dimanfaatkan untuk kemajuan dan kemakmuran negara bersangkutan.
Jika kita pelajari stetmen-stetmen Rice dan
Gates, selama kunjungan mereka ke negara-negara Timur Tengah, maka akan
kita ketahui bahwa usaha utama Menhan AS dalam kunjungan ini terpusatkan
pada usahanya menampilkan aktifitas nuklir Iran dan politik-politik Iran
di tingkat regional sebagai ancaman bagi negara-negara lain di kawasan
ini. Beberapa jam sebelum memulai tugasnya, dan ketika masih berada di
Washington, mengatakan bahwa kontrak-kontrak persenjataan antara AS dan
Arab Timur Tengah ditandatangani untuk mengantisipasi pengaruh Iran,
karena Iran adalah sumber kesulitan AS di Timru Tengah. Robert gates,
Menhan AS, juga melemparkan berbagai tuduhan yang mirip dengan
tuduhan-tuduhan yang dilemparkan oleh Rice. Ketika dalamperjalanan
kembali ke Washington, kepada para wartawan Gates mengklaim bahwa Iran
tengah sibuk dengan berbagai aktifitas yang bertentangan dengan interes
mayoritas negara sekitarnya.
Menhan AS tidak menjelaskan aktifitas dan
politik Iran yang mana yang bertentangan dengan kepentingan
negara-negara regional. Robert Gates juga tidak menyinggung realitas
bahwa kecemasan utama negara-negara Timur Tengah dan Teluk Persia ialah
terhadap politik militerisme AS di kawasan ini. Kinerja George Bush,
Presiden AS, sejak 11 September 2001, penuh dengan berbagai kekeliruan
politik dan militer. Kegagalan politik dan militer AS dan para sekutunya
dalam melaksanakan berbagai rancangan dan janji-janji mereka di Irak dan
Afganistan membuktikan dengan jelas kekeliruan politik pemerintahan
Bush. Penjualan puluhan miliar USD senjata ke negara-negara Arab juga
merupakan kekeliruan lain yang mungkin saja akan mendatangkan
kepentingan ekonomi jangka pendek bagi AS. Hanya saja dalam jangka
panjang, ia akan mendatangkan dampak-dampak negatif yang sangat tidak
diharapkan bagi AS. Karena para pejabat Arab tentu masih ingat bahwa
setelah peristiwa 11 September, AS berbicara tentang urgensi perubahan
peta politik Timur Tengah dan mengganti sistim-sistim pemeirntahan
kerajaan negara-negara Arab dengan pemerintahan-pemerintahan demokratik.
Akan tetapi, saat ini, dengan alasan menghadapi apa yang ia sebut
sebagai "Politik Instabilitas Konstruktif Iran", memutuskan menjual
senjata-senjata dengan nilai 63 miliar USD kepada negara-negara Timur
Tengah dan Teluk Persia.
Rancangan baru AS untuk menetralisir RII
melalui penjualan senjata ke negara-negara regional, juga menghadapi
penentangan serius di Barat. Tom lantos, anggota parlemen AS dari Partai
Demokrat, menilai penjualan senjata dalam jumlahbesar kepada
negara-negara Arab akan membuka peluang kemungkinan munculnya sebuah
tragedi. Sejumlah sumber diplomatik Barat, dalam menjelaskan stetmen
Lantos ini mengatakan, bahwa para penentang kontrak penjualan senjata
moderen AS kepada negara-negara Arab, mencemaskan jatuhnya senjata dalam
jumlah besar ini ke tangan negara-negara kawasan dan terlepas dari
kontrol AS. Pengamat politik di Koran Internasional Herald Tribune,
memandang upaya pemerintahan Bush untuk mentralisir pengaruh Iran di
kawasan melalui penjualan senjata sebagai langkah keliru. Ia mengatakan,
bahwa mempersenjatai tetangga-tetangga Iran dengan bermiliar-miliar
persenjataan moderen, dimana para pembelinya bahkan tidak tahu cara
penggunaannya, sam sekali tidak akan membantu penyelesaian kesulitan AS
di kawasan.
Menurut pengamat ini, AS menyangka dengan
menyeret Iran ke dalam persaingan senjata, akan mengganggu pengembangan
ekonomi negara ini, dan pada akhirnya akan mendatangkan kejatuhan Iran.
Akan tetapi teori ini memiliki kelemahan yang sangat besar, yaitu bahwa
pengaruh Iran di kawasan, sama sekali tidak ditopang oleh kekuatan
militer negara ini, sebagaimana dapat dilihat bahwa Arab Saudi, sekitar
4 kali lipat Iran, mengeluarkan biaya untuk kepentingan militer. Menurut
Herald Tribune, kunci utama peningkatan kekuatan dan pengembangan
pengaruh Iran di kawasan ialah, pelaksanaan berbagai pemilu demokratik,
bukan hanya di dalam Iran, tapi di seluruh kawasan. Pemilu parlemen
Palestina, dukungan suara rakyat Mesir kepada Ikhwanul Muslimin,
kemenangan-kemenangan politik Hizbullah di Lebanon, dan partai-partai
Syiah di Irak, merupakan bagian dari hal ini.
Terlepas dari berbagai realitas yang
diungkapkan oleh koran Barat ini, satu hal tak boleh dilupakan bahwa
para pejabat AS, selama dua tahun terakhir, telah melancarkan berbagai
langkah dengan tujuan menggalang suatu koalisi regional anti Iran, akan
tetapi ia tidak pernah sukses dalam usahanya ini. Kunjungan terbaru
Menlu dan Menhan AS ke kawasan, selain berkaitan dengan penjualan
senjata, juga berkaitan dengan masalah ini. akan tetapi, tampaknya Rice
dan Gates tidak memperoleh sedikit pun reaksi dari para pejabat Arab
yang menunjukkan kesediaan mereka melangkah bersama AS untuk memusuhi
Iran. Pembentukan sebuah koalisi terdiri dari negara-negara kawasan,
bersama AS, Inggris dan rezim zionis, untuk menekan dan memusuhi Iran
adalah sebuah pengalaman yang di era perang yang dipaksakan, yaitu
perang delapan tahun agresi Irak ke Iran, sudah pernah terjadi dalam
skupnya yang lebih luas; yang pada akhirnya memberikan noda hitam bagi
para pelakunya dan kehancuran bekas diktator Irak. Dengan demikian jelas
sekali bahwa para pejabat Timur Tengah dan Teluk Persia tidak akan
bersedia mengulangi pengalaman pahit mereka itu.
|