Perspektif    

   Agustus 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Upaya AS Membentuk Koalisi Baru Anti Iran

Condoleezza Rice, Menlu AS, dan Robert Gates, Menhan AS, pekan lalu dalam lawatan ebrsamanya ke Timur Tengah dan Teluk Persia bertatap muka dan berdialog dengan para pejabat negara-negara kawasan tersbeut. Berbagai berita dan laporan bertebaran berkenaan dengan tujuan-tujuan kunjungan bersama dan langka oleh dua menteri kunci pemerintahan George Bush ini. Media-media massa AS menulis bahwa Rice dan Gates, dalam kunjungan ke negara-negara Arab tetangga Irak di Teluk Persia meminta kepada para pejabat negara ini agar mengambil sikap yang konstruktif terhadap pemerintahan Nuri Al-Maliki.

Sebelum dimulainya lawatan Timur Tengah Menlu dan Menhan AS, tersebar pula berita tentang kontrak-kontrak penjualan persenjataan dalam jumlah besar oleh AS kepada rezim zionis dan kepada negara-negara anggota Kerjasama Teluk Persia, juga kepada mesir. Berkenaan dengan perjanjian peresenjataan baru antara AS dan negara-negara Arab serta rezim zionis akan kami bicarakan dalam kelanjutan acara ini. Adapun saat ini kami cukupkan dengan menyampaikan angka-angka berikut, yaitu bahwa berdasarkan kontrak-kontrak tersebut, dalam masa 10 tahun As akan menjual senjatanya kepada rezim zionis senilai 30 miliar USD, kepada Arab Saudi dan negara-negara anggota Kerjasama Teluk Persia senilai 20 miliar USD, dan kepada Mesir senilai 13 miliar USD.

Adapun tugas terpenting Rice dan Gates dalam kunjungannya ke Timur Tengah ialah membentuk front baru anti RII. Berita-berita berkenaan dengan Iran dalam tujuan kunjungan Menlu dan Menhan AS ke kawasan ini, pertama kali di rilis oleh Fox News. Sebelum kunjungan dua pejabat tinggi AS tersebut ke kawasan, Fox News mengumumkan bahwa dalam pertemuan-pertemuan dengan para pejabat Arab, Rice dan Gates akan menjelaskan rancangan baru AS untuk mengantisipasi pengaruh Iran di Teluk Persia. Kantor berita Perancis juga melaporkan bahwa Menhan AS mengakhiri tugasnya di Timur Tengah dengan mengajukan permintaan kepada negara-negara Arab agar bekerjasama dengan AS untuk semakin menekan RII di bidang ekonomi dan politik.

Berdasarkan stetmen resmi militer AS, lebih dari satu dekade, negara ini telah mengirimkan senjata kepada rezim zionis dan sejumlah negara Arab Teluk Persia dan Timur Tengah dengan nilai lebih dari 63 miliar USD. Seorang pejabat tinggi Dephan AS, yang ikut dalam rombongan kunjungan Robert Gates ini, mengatakan, persenjataan yang akan dijual ke Arab Saudi, akan memperkuat pasukan Angkatan Darat, Laut dan Udara negara ini, dalam menghadapi apa yang disebut oleh AS sebagai "Ancaman Iran". Sebelum berangkat ke Mesir, Menhan AS juga mengatakan kepada para wartawan, "Penjualan senjata-senjata moderen kepada Arab Saudi, Mesir dan Israel, dilakukan dalam rangka memperkuat negara-negara ini untuk menghadapi kemungkinan serangan Iran."

Menhan AS mengulang-ulang klaimnya tentang ancaman RII bagi kawasan dan mengatakan bahwa AS tidak akan meninggalkan teman-temannya di kawasan ini menghadapi Iran sendirian. Sementara Menlu dan Menhan AS menjustifikasi penjualan puluhan miliar USD senjata-senjatanya kepada negara-negara kawasan dengan alasan ancaman Iran, padahal tak satu pun negara Arab Timur Tengah dan Teluk Persia yang merasakan adanya ancaman sekecil apa pun dari Iran; bahkan mereka berkali-kali menyatakan yang demikian itu. Demikian pula Iran juga tidak merasakan kekhawatiran khusus dari pembelian persenjataan oleh negara-negara Arab Timur Tengahd dan Teluk Persia.

Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII, pekan lalu, di depan para wakil berbagai media massa Aljazair, berkenaan denan masalah ini berkata, "Bukan yang pertama kalinya AS menjual senjatanya kepada negara-negara kawasan ini, bahkan selama 20 tahun terakhir, AS dan para produsen senjata lain, telah menjual persenjataan kepada negara-negara Arab dengan nilai mencapai sekitar 400 miliar USD. Presiden Iran menilai penjualan senjata AS kepada negara-negara Arab sebagai bagian dari usaha gedung putih untuk menciptakan perpecahan diantara negara-negara regional. Beliau berkata, RII tidak akanmerasa cemas dengan pembelian senjata oleh negara-negara Arab. Karena Iran memiliki hubungan yang kuat dan mendalam dengan negara-negara ini. Akan tetapi Ahmadinejad mengingatkan bahwa pembelian senjata, oleh negara manapun, tanpa perhitungan dan di luar keperluan yang sesungguhnya, hanya akan membuang-buang kekayaan nasional, padahal biaya sebesar itu dapat dimanfaatkan untuk kemajuan dan kemakmuran negara bersangkutan.

Jika kita pelajari stetmen-stetmen Rice dan Gates, selama kunjungan mereka ke negara-negara Timur Tengah, maka akan kita ketahui bahwa usaha utama Menhan AS dalam kunjungan ini terpusatkan pada usahanya menampilkan aktifitas nuklir Iran dan politik-politik Iran di tingkat regional sebagai ancaman bagi negara-negara lain di kawasan ini. Beberapa jam sebelum memulai tugasnya, dan ketika masih berada di Washington, mengatakan bahwa kontrak-kontrak persenjataan antara AS dan Arab Timur Tengah ditandatangani untuk mengantisipasi pengaruh Iran, karena Iran adalah sumber kesulitan AS di Timru Tengah. Robert gates, Menhan AS, juga melemparkan berbagai tuduhan yang mirip dengan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan oleh Rice. Ketika dalamperjalanan kembali ke Washington, kepada para wartawan Gates mengklaim bahwa Iran tengah sibuk dengan berbagai aktifitas yang bertentangan dengan interes mayoritas negara sekitarnya.

Menhan AS tidak menjelaskan aktifitas dan politik Iran yang mana yang bertentangan dengan kepentingan negara-negara regional. Robert Gates juga tidak menyinggung realitas bahwa kecemasan utama negara-negara Timur Tengah dan Teluk Persia ialah terhadap politik militerisme AS di kawasan ini. Kinerja George Bush, Presiden AS, sejak 11 September 2001, penuh dengan berbagai kekeliruan politik dan militer. Kegagalan politik dan militer AS dan para sekutunya dalam melaksanakan berbagai rancangan dan janji-janji mereka di Irak dan Afganistan membuktikan dengan jelas kekeliruan politik pemerintahan Bush. Penjualan puluhan miliar USD senjata ke negara-negara Arab juga merupakan kekeliruan lain yang mungkin saja akan mendatangkan kepentingan ekonomi jangka pendek bagi AS. Hanya saja dalam jangka panjang, ia akan mendatangkan dampak-dampak negatif yang sangat tidak diharapkan bagi AS. Karena para pejabat Arab tentu masih ingat bahwa setelah peristiwa 11 September, AS berbicara tentang urgensi perubahan peta politik Timur Tengah dan mengganti sistim-sistim pemeirntahan kerajaan negara-negara Arab dengan pemerintahan-pemerintahan demokratik. Akan tetapi, saat ini, dengan alasan menghadapi apa yang ia sebut sebagai "Politik Instabilitas Konstruktif Iran", memutuskan menjual senjata-senjata dengan nilai 63 miliar USD kepada negara-negara Timur Tengah dan Teluk Persia.

Rancangan baru AS untuk menetralisir RII melalui penjualan senjata ke negara-negara regional, juga menghadapi penentangan serius di Barat. Tom lantos, anggota parlemen AS dari Partai Demokrat, menilai penjualan senjata dalam jumlahbesar kepada negara-negara Arab akan membuka peluang kemungkinan munculnya sebuah tragedi. Sejumlah sumber diplomatik Barat, dalam menjelaskan stetmen Lantos ini mengatakan, bahwa para penentang kontrak penjualan senjata moderen AS kepada negara-negara Arab, mencemaskan jatuhnya senjata dalam jumlah besar ini ke tangan negara-negara kawasan dan terlepas dari kontrol AS. Pengamat politik di Koran Internasional Herald Tribune, memandang upaya pemerintahan Bush untuk mentralisir pengaruh Iran di kawasan melalui penjualan senjata sebagai langkah keliru. Ia mengatakan, bahwa mempersenjatai tetangga-tetangga Iran dengan bermiliar-miliar persenjataan moderen, dimana para pembelinya bahkan tidak tahu cara penggunaannya, sam sekali tidak akan membantu penyelesaian kesulitan AS di kawasan.

Menurut pengamat ini, AS menyangka dengan menyeret Iran ke dalam persaingan senjata, akan mengganggu pengembangan ekonomi negara ini, dan pada akhirnya akan mendatangkan kejatuhan Iran. Akan tetapi teori ini memiliki kelemahan yang sangat besar, yaitu bahwa pengaruh Iran di kawasan, sama sekali tidak ditopang oleh kekuatan militer negara ini, sebagaimana dapat dilihat bahwa Arab Saudi, sekitar 4 kali lipat Iran, mengeluarkan biaya untuk kepentingan militer. Menurut Herald Tribune, kunci utama peningkatan kekuatan dan pengembangan pengaruh Iran di kawasan ialah, pelaksanaan berbagai pemilu demokratik, bukan hanya di dalam Iran, tapi di seluruh kawasan. Pemilu parlemen Palestina, dukungan suara rakyat Mesir kepada Ikhwanul Muslimin, kemenangan-kemenangan politik Hizbullah di Lebanon, dan partai-partai Syiah di Irak, merupakan bagian dari hal ini.

Terlepas dari berbagai realitas yang diungkapkan oleh koran Barat ini, satu hal tak boleh dilupakan bahwa para pejabat AS, selama dua tahun terakhir, telah melancarkan berbagai langkah dengan tujuan menggalang suatu koalisi regional anti Iran, akan tetapi ia tidak pernah sukses dalam usahanya ini. Kunjungan terbaru Menlu dan Menhan AS ke kawasan, selain berkaitan dengan penjualan senjata, juga berkaitan dengan masalah ini. akan tetapi, tampaknya Rice dan Gates tidak memperoleh sedikit pun reaksi dari para pejabat Arab yang menunjukkan kesediaan mereka melangkah bersama AS untuk memusuhi Iran. Pembentukan sebuah koalisi terdiri dari negara-negara kawasan, bersama AS, Inggris dan rezim zionis, untuk menekan dan memusuhi Iran adalah sebuah pengalaman yang di era perang yang dipaksakan, yaitu perang delapan tahun agresi Irak ke Iran, sudah pernah terjadi dalam skupnya yang lebih luas; yang pada akhirnya memberikan noda hitam bagi para pelakunya dan kehancuran bekas diktator Irak. Dengan demikian jelas sekali bahwa para pejabat Timur Tengah dan Teluk Persia tidak akan bersedia mengulangi pengalaman pahit mereka itu.

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]