|
Abad dua puluh merupakan era paling bersejarah bagi negara-negara
terjajah. Ada banyak negara yang dulunya terpasung rantai kolonialisme
Barat, merdeka dan meraih kebebasannya di penghujung abad ini. Fenomena
ini kian menggajala dipermukaan sejarah, ketika kekuatan negara-negara
kolonialis seperti Inggris, Perancis, Italia dan Jepang kian
terseok-seok akibat deraan Perang Dunia II. Namun ironisnya, kemerdekaan
yang mereka raih hanyalah kemerdekaan semu. Mereka hanya lepas dari
jeratan kolonialisme klasik. Tapi tak mampu lepas dari kejamnya
penjajahan modern yang begitu menyusup lunak hingga ke alam pikiran
mereka. Meski sudah bertahun-tahun mereka proklamasikan kemerdekaan
negaranya, namun hingga kini seajatinya, politik mereka, ekonomi dan
kebudayaan mereka masih terikat dengan imperialisme global. Naifnya
lagi, hanya sedikit saja yang mau berjuang untuk lepas dari jeratan
penjajahan modern. Itupun mereka harus menghadapi tekanan dan politik
desktruktif negara-negara adidaya, semacam AS.
Tampaknya, sejak awal Barat sengaja memberikan kemerdekaan semu kepada
negara-negara jajahannya. Barat sudah mempersiapkan cara yang lebih
cerdik dan pelik untuk menjarah kekayaan alam negara-negara dunia
ketiga. Strategi ini lebih di kenal dengan istilah neokolonialisme.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Barat, khususnya AS
begitu menentang kemerdekaan sejati negara-negara dunia ketiga?
Hampir-hampir mustahil, negara-negara kolonialis bisa menerima
kemerdekaan mutlak negara-negara jajahannya. Washington tak pernah sudi
negara-negara lain menerapkan kebijakan nasionalnya lepas tanpa campur
tangan AS. Dengan kata lain, Gedung Putih tak pernah tahan melihat
kepentingan haramnya terancam di berbagai penjuru dunia.
Dari perspektif politik, keberadaan negara yang independen dan lepas
dari ikatan imperialisme global merupakan pilot percontohan bagi
negara-negara lain yang masih menjadi korban penjajahan modern. Kian
bertambahnya jumlah negara-negara yang mandiri dan terjalinnya hubungan
politik dan ekonomi yang makin dekat di antara mereka merupakan ancaman
berbahaya bagi AS. Tak aneh jika Washington berupaya keras menggagalkan
hubungan dekat di antara negara-negara independen, semacam Republik
Islam Iran, Syria, Venezuela, dsb. Di lain pihak, Barat juga semakin
khawatir dengan kemajuan ekonomi yang dicapai oleh negara-negara dunia
ketiga. Pasalnya, setiap kemajuan ekonomi dan politik yang diraih
negara-negara ini, merupakan gerakan yang bisa mengikis kekuatan ekonomi
neokolonialisme Barat. Bahkan, belakangan ini, AS telah berani secara
terbuka menentang kemajuan iptek dan ekonomi Iran dan sejumlah negara
berkembang lainnya.
Kendati demikian, kemerdekaan yang paling membahayakan bagi para
penjajah adalah kemerdekaan berpikir dan budaya negara-negara dunia
ketiga. Kesadaran dan kedewasaan kultural bangsa-bangsa lain, merupakan
halangan terbesar bagi proyek eksploitasi Barat. Karena itu, AS berupaya
memasung pemikiran dan budaya bangsa-bangsa lain lewat berbagi cara,
khususnya dengan memanfaatkan media masa. Mereka berusaha melalaikan
rakyat negara-negara lain dari hiruk-pikuk realita penjajahan dan proyek
eksploitasi kekayaan alam dunia ketiga dengan persoalan fiksi. Salah
satu tuga utama media masa Barat adalah memadamkan semangat perjuangan
melawan ketidakadilan dan imperialisme di negara-negara berkembang.
Karena itu, media-media Barat gencar menampilkan Islam secara negatif
dan miring, lantaran Islam adalah agama penyeru keadilan dan anti
kezaliman. Mereka berusaha keras menampilkan ideologi dan kultur Barat
sebagai alternatif tunggal.
Motif lain dari sikap penentangan AS terhadap kemerdekaan sejati
negara-negara lain adalah guna mencegah kemandirian dan kemajuan sejati
bangsa-bangsa dunia ketiga. Pasalnya, apabila demokrasi dan kedaulatan
rakyat masih belum terwujud, maka kemajuan negara di berbagai bidang
tidak akan mungkin terwujud. Noam Chomsky, seorang pemikir dan kritikus
AS dalam artikelnya di majalah Z menulis, “Dalam sejarah kontemporer,
demokrasi dan kemajuan memiliki musuh bersama yaitu tidak adanya
kemerdekaan”. Dia menambahkan, “Dalam sistem politik dunia saat ini,
rezim boneka di sebut sebagai neoliberal, maka tepat jika kita
mengatakan bahwa musuh bersama demokrasi dan kemajuan adalah
neoliberalisme. Di negara-negara semacam negara-negara Amerika Latin
yang telah menerapkan prinsip-prinsip neoliberalisme, kita telah
saksikan hancurnya infrastruktur ekonomi, sementara sejumlah
negara-negara Asia Timur mengalami kemajuan yang cukup pesat lantaran
meninggalkan prinsip-prinsip neoliberalisme”.
Guna mencegah kemerdekaan sejati negara-negara berkembang, berupaya
menggunakan berbagai cara dan stretegi haram. Salah satu strategi
terpentingnya adalah menumbangkan suatu pemerintahan independen lewat
kudeta. Salah satu skandal kudeta paling terkenal yang didalangi oleh
AS, adalah kudeta melawan pemerintahan Dr. Mossadegh pada tahun 1953 di
Iran dan Dr. Salvador Alandeh pada tahun 1973 di Chili. Washington
sengaja melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Dr. Mossadegh dan
Salvador Alandeh karena keduanya berupaya keras memperjuangkan
kepentingan nasionalnya dan melepaskan diri dari Barat. Contoh kudeta
lain yang disebut Noam Chomsky dalam artikelnya adalah kudeta yang
terjadi di Indonesia pada era Sorkarno di tahun 1965. “Di Indonesia,
kudeta yang dilancarkan Soeharto pada tahun 1965 berhasil menghacurkan
ancaman kemerdekaan bagi AS. Sebuah kudeta yang diiringi dengan
pembantaian masal. Bahkan CIA sempat membandingkannya dengan kejahatan
Hitler dan Stalin”.
Intervensi militer secara langsung di negara-negara yang tak mau tunduk
pada Washington merupakan strategi lain AS. Menyusul kemenangan Revolusi
Islam di Iran dan gagalnya kudeta serta embargo ekonomi terhadap Iran,
AS pun segera menggunakan perangkat militernya untuk menghadapi Iran.
Namun kali ini ia memanfaatkan Rezim Saddam Irak untuk melawan Iran.
Setelah Saddam tak lagi menjadi bidak yang menguntungkan bagi Gedung
Putih, AS segera menggelar invasi ke Irak dan menumbangkannya. Hingga
kini, AS tetap menjadi halangan utama Irak dan pemerintahan Nouri
Al-Maliki untuk melepaskan bangsanya dari krisis perang saudara.
Revolusi lunak merupakan salah satu strategi AS yang masih relatif baru.
Dalam revolusi lunak (soft revolution) ini, AS mengatur gerakan politik
secara diam-diam lewat bantuan dana dan arahan politik yang mereka
berikan kepada para intelektual, media masa, dan kelompok yang kecewa
terhadap pemerintahan negara sasaran. Dengan bantuan fasilitas dan
kemudahan yang luas, AS berusaha memprovokasi kekuatan oposan tersebut
untuk melakukan aksi berontak kepada pemerintah. Gerakan revolusi lunak
ini didalangi oleh lembaga-lembaga inteljen AS. Revolusi bewarna di
Georgia, Ukraina, dan Kirgyzstan merupakan hasil proyek nyata dari
revolusi lunak ala Washington tersebut.
Propaganda dan penipuan masal merupakan strategi lain AS untuk mengubah
pemerintahan independen suatu negara. Dengan dukungan media masa yang
kuat, AS berupaya keras mengubah pandangan publik terhadap
pemerintahannya dan memprovokasi mereka untuk memberontak. Biasanya,
propaganda terselubung ini beriringan dengan tekanan politik dan
ekonomi. Sejumlah lembaga internasional seperti Dewan Keamanan PBB,
Dewan HAM PBB, IMF, dan Bank Dunia turut dilibatkan oleh Washington
untuk merealisasikan ambisinya. Apa yang terjadi di Venezuela, Iran,
Bolivia, Pemerintahan Hamas di Palestina dan Hezbollah Lebanon, adalah
sekian contoh nyata dari sasaran strategi kotor semacam ini.
|