|
Di hari Idul Adha jalanan
dipenuhi dengan wangi semerbak kebahagiaan. Suasana penantian akan datangnya
keindahan saat hamba-hamba Allah mengorbankan hal yang dicintainya demi rasa
cinta kepada Allah, sangat terasa di mana-mana. Idul Adha atau Idul Qurban,
adalah hari raya penghambaan. Idul Qurban adalah hari raya bagi siapa saja yang
menganggap dirinya hanyalah seorang hamba yang harus mengorbankan hal yang
paling dicintainya kepada Allah.
Marilah kita sekarang melakukan
perjalanan ruhani ke Mina. Di tempat itu, pada hari Raya Idul Adha, jutaan
jamaah haji melakukan penyembelihan atas hewan kurban. Sebelumnya, mereka
melakukan lempar jumrah. Mereka melempari tugu-tugu yang menjadi simbol hawa
nafsu syaitaniah. Apa yang dilakukan jamaah haji itu merupakan pengulangan atas
sebuah peristiwa sangat agung yang pernah terjadi terhadap Ibrahim dan putranya
Ismail, ‘alaihimas-salam. Peristiwa yang agung itu tercantum dalam
Al-Quran surah Ash-Shaffat ayat 102 dan 102. Dalam surat itu, Allah berfirman
sebagai berikut.
“Telah Kami kabarkan berita
gembira kepada Ibrahim tentang anaknya yang sangat sabar. Ketika anaknya
(Ismail) itu telah sampai pada usia yang cukup baginya untuk melakukan usaha,
Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sungguh aku telah bermimpi. Dalam mimpiku itu,
aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?’ Ismail lalu menjawab,
“Wahai ayahku, kerjakanlah apapun yang telah diperintahkan. Insya Allah, engkau
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar”.
Percakapan yang pendek ini
merekam sebuah gambaran dunia yang bersih serta penuh dengan kerelaan dan cinta.
Dua manusia mulia ini, yaitu Ibrahim dan Ismail, telah menunjukkan sebuah konsep
penghambaan yang paling agung. Bagi siapapun juga, hal paling berharga yang
dimiliki oleh manusia adalah nyawanya. Bagi seorang ayah, nyawa anak kandung
adalah benda paling bernilai kedua. Bahkan, dalam banyak kasus, seorang ayah
seringkali lebih menghargai nyawa anaknya daripada nyawa dirinya sendiri. Karena
itu, kepatuhan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan nyawa anaknya, dan kepatuhan
Ismail dalam untuk mengorbankan nyawanya sendiri, demi menaati perintah Allah,
jelas hanya bisa terjadi karena keduanya sudah sampai kepada tingkat penghambaan
tertinggi.
Pengorbanan tiada tara yang
dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail itu menyebabkan turunnya rahmat dan keridhoan
dari Allah yang Maha Pengasih. Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor
domba. Ismail sendiri selamat karena yang kemudian disembelih adalah domba yang
diturunkan Allah itu. Simaklah firman Allah sebagaimana yang terekam dalam surah
Ash-Shaffat ayat 105 hingga ayat 110 berikut ini.
“Wahai Ibrahim, perintah yang
engkau dapati dalam mimpi itu telah engkau kerjakan. Kami tentu memberikan
balasan kepada orang-orang yang baik seperti itu. Sesungguhnya, ini adalah ujian
yang sangat besar. Untuk itu, kami ganti pengorbanan itu dengan sembelihan yang
agung. Nama Ibrahim akan Kami kekalkan bagi ummat-ummat setelahnya. Salam bagi
Ibrahim. Kami berikan pahala bagi kebaikan seperti ini. Ia termasuk di antara
hamba-hamba-Ku yang beriman”.
Idul Qurban adalah puncak dari
pelaksanaan manasik haji. Di Mina, pada hari itu, kita akan melihat jutaan hamba
Allah mengerjakan perintah Allah ini. Mereka berkurban sebagaimana yang dulu
pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Dengan penuh cinta dan keikhlasan, mereka
membeli hewan yang paling baik dan tidak memiliki cacat sedikitpun. Setelah itu,
hewan pilihan itu justru mereka kurbankan dan mereka persembahkan kepada Allah.
Di seluruh dunia, kaum muslimin
juga merayakan hari pengorbanan ini. Bersama-sama dengan saudara-saudara mereka
yang berada di Mina, mereka juga merayakan keberhasilan mereka dalam mengalahkan
hawa nafsu dan bisikan setan. Mereka bergembira karena mampu meneladani
perilaku keluarga Nabi Ibrahim, yang dengan tangguhnya mampu menghadapi
godaan-godaan setan, sehingga berbagai manuver syaitan yang menyesatkan berhasil
dihalau, bahkan betul-betul diperangi. Sikap teguh memerangi syaitan ini dalam
ibadah haji dilambangkan dengan melontar jumrah.
Bersama para jamaah haji lainnya, mereka berharap sepenuh
hati agar dengan ibadah haji dan kurban itu, kecintaan pada dunia, kecintaan
kepada diri, anak, isteri,suami, dan harta jangan sampai melebihi dengan
kecintaannya kepada Allah. Allah berfirman, “Di antara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan-tandingan Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang yang beriman, mereka amat mecintai Allah” (Quran
Surah Al-Baqarah ayat165).
Haji adalah lambang persatuan
dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah
haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian
melambangkan pola, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan
batas palsu yang tidak jarang menyebabkan perpecahan di antara manusia.
Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep "aku", bukan "kami atau kita",
sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku,
bangsaku, dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme.
Penonjolan "keakuan" adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Haji juga melambangkan egalitarianisme. Mulai dari miqat mereka mengenakan
pakaian yang sama yaitu kain kafan pembungkus mayat, yang terdiri dari dua helei
kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya
antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang
dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat
dan orang awam, yang berasal dari Barat dan yang berasal dari Timur. Mereka
memakai pakaian yang sama, berangkat pada waktu dan tempat yang sama, dan akan
bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktifitas dengan
aktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama.
Ibadah haji dan kurban juga
menunjukkan semangat ketundukan secara mutlak terhadap segala yang diperintahkan
oleh Allah. Ibadah kurban juga mengajak ummat manusia di dunia agar selalu
bersiap-siap untuk melakukan pembelaan terhadap agama dan ideologi. Surah Al-Haj
ayat 37 juga mengisyaratkan kepada ummat Islam bahwa yang paling penting dari
ibadah kurban adalah semangat untuk terus menempa diri hingga menjadi hamba yang
bertakwa. Disebutkan dalam surat itu bahwa daging dan darah hewan sembelihan itu
tidak akan sampai kepada Allah, karena memang Allah tidak membutuhkan semua itu,
dan yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan kita.
Karena itu, kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa tujuan yang harus dicapai oleh manusia dengan ibadah haji
adalah pencapaian tahap demi tahap nilai ketakwaan, hingga mencapai derajat
manusia sempurna. Keterpisahan dan hal-hal duniawi yang mengikat dan dari
berbagai bentuk hawa nafsu adalah pelajaran terpenting yang harus diserap oleh
siapa saja yang menjalankan ibadah haji ini.
Berkorbanlah layaknya Ibrahim
dan Ismail
Nyawa siap terlepas demi
pengabdian dan cinta sejati
Jika tidak, maka kepergianmu ke
Kabah
Hanya membuat setan tertawa
terbahak-bahak
Berkorbanlah, tapi dirimulah
yang dikorbankan itu
Bukan domba, dan bukan yang
selain dirimu
Jika tidak, sungguh engkau belum
mampu memahami
Makna dari setan yang dikutuki |